Blogger templates

Pages

Senin, 12 Maret 2012

Bujang Gelomat


BECALEK - CALEK
Warung kopi di pojok kampung di Kelurahan Ulak Surung itu tidaklah terlalu luas, paling-paling hanya berukuran 3 x 4 meter. Tiangnya terbuat dari bambu dan atapnya genteng.  di atas meja tersedia berbagai macam gorengan hangat seperti tahu bunting, pisang goreng, tempe goreng, dan bakwan. Meski sederhana, warung kopi itu selalu ramai dikunjungi. Mungkin, karena letaknya yang strategis, atau karena daya tarik Markonah, si janda kembang sang pemilik warung, yang memiliki tahi lalat tepat di ujung hidungnya. Di warung itulah Bujang Gelomat sering mangkal sampai berjam-jam lamanya.
Sore itu,Bujang Gelomat alias Mat Lundang, seperti biasa sedang nongkrong di warung Markonah bersama teman-temannya, ketika beberapa orang masuk dan mengambil tempat duduk persis berhadap-hadapan dengan Bujang Gelomat dan teman-temannya. Mereka lalu memesan kopi dan langsung mencomot bakwan di atas meja. Tak lama kemudian kopi sudah siap.  “Ayo, minom kopi!” tawar mereka kepada Bujang Gelomat. 
“ Laju,  kami la mbai “ sahut Bujang Gelomat.
Tak lama kemudian, terjadilah komunikasi dua arah antara Bujang Gelomat dengan orang yang duduk dihadapannya. Mula-mula, mereka berkenalan. Edi Doger memperkenalkan namanya pada Bujang Gelomat. Di sela-sela dialog di warung kopi itu, terungkaplah suatu fenomena sosial yang terjadi di Kota Lubuklinggau. Bermula dari pengakuan Edi doger tentang dari mana dia berasal. “Kami kak, sang dusun, kami ngelong ke Linggau bunyi a wang nak milih walikota, make a kami ngelong kalu ade lokak a, sebab di dusun cul gi lokak a. Motong para aghai nak ujan honjo,” aku Edi Doger pada Bujang Gelomat.
“Jadi ongah ke Linggau kak, name tujuan?” tanya Bujang Gelomat.
Lalu, dijawab Edi Doger, “Kami be calek-calek.“
Agak sedikit bingung, Bujang Gelomat mendengar kata becalek-calek. Pikir Bujang Gelomat, ini profesi baru. Belum sempat bertanya tentang pengertian becalek-calek, Edi Doger menjelaskan bahwa singkatan calek adalah calon eksekutif,  yang dimaksud adalah calon walikota. Istilah becalek-calek berarti mereka mendatangi para calon walikota dengan harapan mendapat bantuan berupa baju kaos atau uang. Mereka datang ke rumah calek untuk menawarkan jasa membantu perolehan suara, jasa pengamanan, atau kerja lain guna mendapat tambahan penghasilan.
Markonah yang diam saja sejak awal, ikut nimbrung, “Wai, kalu ade lokak a, bagi oi baju kaos. kalu ku hape ngenjuk sen, ade baju kaos, ku ndak milih a. tapi kalu cul name-name, hory day nak milih a,“ kata Markonah. Dasar Markonah mata duitan. Bujang Gelomat baru mengerti, bahwa di Linggau masih banyak orang yang belum memilih secara rasional. Sungguh suatu fenomena sosial yang memprihatinkan.

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Main Menu

Poll

Powered By Blogger

Pengikut