Blogger templates

Pages

Senin, 12 Maret 2012

MAKLUMAT GERAKAN SUMPAH UNDANG-UNDANG

Menyikapi persoalan sudah mendekati waktu pelaksanaan proses kegiatan fisik di lingkungan Pemerintah Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musirawas, seperti diketahui bahwa bukan menjadi rahasia umum lagi para rekanan sudah mulai bergerilya untuk melakukan pendekatan lobi-lobi proyek ke SKPD-SKPD, maupun ke rumah kepala SKPD. Persoalan ini sering terjadi pada setiap tahun anggaran yang menggunakan dana APBN. Bahkan, ada rumor pada saat proses awal mulai pada tahap tender diduga hanya formalitas, sedangkan pemenangnya sudah diketahui sebelum proses tender berjalan. Pada tahap pelaksanaan juga sering menimbulkan persoalan-persoalan terutama pada kualitas pengerjaan proyek yang diduga dikerjakan asal-asalan jauh dari harapan publik. Pada tahap finalisasi kegiatan banyak kegiatan yang tidak selesai dikerjakan, yang berakibat banyak perusahaan kontraktor yang di-blacklist. Dengan banyaknya persoalan  seperti ini sangat disayangkan dan terkesan uang APBN yang digelontorkan untuk menbiayai pembangunan infrastruktur hanya sebagai ajang untuk mencari keuntungan bagi oknum dan kelompok tertentu tanpa menpertimbangkan azas efektif, efisien, berkualitas, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat juga yang dikecewakan. Seharusnya, masyarakat bisa menikmati jalan yang mulus sebagai akses memperlancar transportasi dalam jangka panjang, akan tetapi hanya bisa dinikmati sesaat, bahkan belum seumur jagung baru masuk tahap pemeliharaan jalan sudah ‘’HANCUR LEBUR’’.Untuk itu, kami dari GSUU menya takan sikap sebagai berikut:1. Men desak Bupati Musirawas dan Walikota Lubuklinggau segera memanggil kepala SKPD yang memiliki proyek fisik agar membuat fakta integritas untuk tidak sembarangan memberi atau melayani oknum yang bukan kontrak tor, maupun oknum yang menberi  proyek  mengatasnamakan penegak hukum.
2. Mendesak Bupati Musirawas dan Walikota Lubuklinggau membuat komitmen kepada kontraktor mengenai jaminan kualitas proyek, paling tidak kegiatan yang dikerjakan oleh kontrak tor, minimal bisa dinikmati oleh masyarakat dalam artian jangka pan  jang. 3. Mendesak kepala SKPD Kota Lubuklinggau maupun Kabupaten Musirawas untuk tidak takut diintimi dasi oleh oknum-oknum yang meng atasnamakan kontraktor yang selama ini kerjaannya jadi makelar proyek dengan memperjualbelikan sehingga berdampak pada kualitas pekerjaan.
4.  Mendesak DPRD Musirawas dan DPRD Lubukinggau berani menjalan kan fungsi pengawasan dengan tegak selaku anggota DPRD untuk menga wasi  kegiatan, baik fisik maupun non fisik yang dilaksanakan oleh eksekutif, dan rekanan guna untuk menghindari terjadinya penyimpangan-penyimpang an dalam pengunaan uang APBN mulai dari proses tender sampai dengan titik 0, serta pengawasan pada penyelesaian 100%. Jangan malah oknum-oknum DPRD berpetualang ke seluruh SKPD, baik di Kabupaten Musirawas maupun Kota Lubuklinggau minta jatah PRO YEK.
5.  Menghimbau kepada oknum LSM dan oknum wartawan Kota Lubuk linggau dan Kabupaten Musirawas untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi rawas agar uang rakyat tidak sia-sia, sehingga pola kerja kita dipuji publik dan tidak terkesan menjadi cemoohan.
6. GSUU akan melaporkan ke institusi hukum yang lebih tinggi di tingkat pusat jika ada temuan-temuan oknum-oknum penegak mengintimidasi SKP D-SKPD dengan meminta jatah proyek dalam modus operandi adanya dugaan-dugaan korupsi di setiap SKPD se-Kabupaten Musirawas maupun Kota Lubuklinggau.Demikian pernyataan sikap ini disampaikan untuk ditin daklanjuti dan dimaklumi serta diper hatikan terima kasih.

Bujang Gelomat


BECALEK - CALEK
Warung kopi di pojok kampung di Kelurahan Ulak Surung itu tidaklah terlalu luas, paling-paling hanya berukuran 3 x 4 meter. Tiangnya terbuat dari bambu dan atapnya genteng.  di atas meja tersedia berbagai macam gorengan hangat seperti tahu bunting, pisang goreng, tempe goreng, dan bakwan. Meski sederhana, warung kopi itu selalu ramai dikunjungi. Mungkin, karena letaknya yang strategis, atau karena daya tarik Markonah, si janda kembang sang pemilik warung, yang memiliki tahi lalat tepat di ujung hidungnya. Di warung itulah Bujang Gelomat sering mangkal sampai berjam-jam lamanya.
Sore itu,Bujang Gelomat alias Mat Lundang, seperti biasa sedang nongkrong di warung Markonah bersama teman-temannya, ketika beberapa orang masuk dan mengambil tempat duduk persis berhadap-hadapan dengan Bujang Gelomat dan teman-temannya. Mereka lalu memesan kopi dan langsung mencomot bakwan di atas meja. Tak lama kemudian kopi sudah siap.  “Ayo, minom kopi!” tawar mereka kepada Bujang Gelomat. 
“ Laju,  kami la mbai “ sahut Bujang Gelomat.
Tak lama kemudian, terjadilah komunikasi dua arah antara Bujang Gelomat dengan orang yang duduk dihadapannya. Mula-mula, mereka berkenalan. Edi Doger memperkenalkan namanya pada Bujang Gelomat. Di sela-sela dialog di warung kopi itu, terungkaplah suatu fenomena sosial yang terjadi di Kota Lubuklinggau. Bermula dari pengakuan Edi doger tentang dari mana dia berasal. “Kami kak, sang dusun, kami ngelong ke Linggau bunyi a wang nak milih walikota, make a kami ngelong kalu ade lokak a, sebab di dusun cul gi lokak a. Motong para aghai nak ujan honjo,” aku Edi Doger pada Bujang Gelomat.
“Jadi ongah ke Linggau kak, name tujuan?” tanya Bujang Gelomat.
Lalu, dijawab Edi Doger, “Kami be calek-calek.“
Agak sedikit bingung, Bujang Gelomat mendengar kata becalek-calek. Pikir Bujang Gelomat, ini profesi baru. Belum sempat bertanya tentang pengertian becalek-calek, Edi Doger menjelaskan bahwa singkatan calek adalah calon eksekutif,  yang dimaksud adalah calon walikota. Istilah becalek-calek berarti mereka mendatangi para calon walikota dengan harapan mendapat bantuan berupa baju kaos atau uang. Mereka datang ke rumah calek untuk menawarkan jasa membantu perolehan suara, jasa pengamanan, atau kerja lain guna mendapat tambahan penghasilan.
Markonah yang diam saja sejak awal, ikut nimbrung, “Wai, kalu ade lokak a, bagi oi baju kaos. kalu ku hape ngenjuk sen, ade baju kaos, ku ndak milih a. tapi kalu cul name-name, hory day nak milih a,“ kata Markonah. Dasar Markonah mata duitan. Bujang Gelomat baru mengerti, bahwa di Linggau masih banyak orang yang belum memilih secara rasional. Sungguh suatu fenomena sosial yang memprihatinkan.

DAMMAKMURPAK RELOKASI SUKU ANAK DALAM DESA MUARATIKU DAN DESA HARAPAN


DAMPAK MAKMUR RELOKASI SUKU ANAK DALAM DESA MUARATIKU DAN DESA HARAPAN '' Laporan Pandangan Mata : Muhamad Imron Pimpinan Redaksi DM

MUSIRAWAS, DUTA MEDIA,  .
Di antara liukan jalan tanah merah menuju lokasi perkampungan Suku Anak Dalam (SAD) yang di kiri kanan jalannya ditumbuhi pohon-pohon Akasia milik perusahaan HTI di wilayah Desa Harapan Makmur Kecamatan Muara Lakitan. Di balik rerimbunan pohon Akasia itu, ada lokasi terpencil yang sekeliling hak tanahnya telah dikuasai perusahaan. Kampung Suku Anak Dalam yang biasa disebut suku Kubu tersebut berada di tengah-tengah lahan konsesi HTI. Namun, ada ironisme masyarakat suku Kubu sebagai penghuni hutan di balik relokasi wilayah baru pemukiman yang dikelilingi pepohonan Akasia tersebut, karena hutan-hutan sebagai rumah mereka telah hilang bersama sepinya buruan binatang serta jasad renik sebagai siklus ekosistem yang telah berubah, yang kini menjadi tak ramah terhadap penghuninya.
Perubahan  hutan adat menjadi lahan produktif milik pengusaha yang bermodal, serta selembar surat legalitas sebagai Investor asing, tak pernah dihitung berapa kerugian masyarakat akibat dari perubahan tersebut, sebab yang dihitung hanya berapa negara diuntungkan dan pengusaha yang diuntungkan. Akibatnya, ketika musim menjadi berubah—di samping musim hujan dan musim kemarau—kini, musimpun menjadi  bertambah yaitu musim asap. Ketika musim kemarau kekeringan terjadi, musim hujan pun selalu banjir. Ini tanpa ada perhitungan. Sudah berapakah masyarakat dirugikan berjangka panjang yang termaktub di dalam dokumen analisa dampak lingkungan (AMDAL)?
Komunitas masyarakat adat terpencil tersebut, dengan istilah pemerintah komunitas adat terpencil (KAT) atau sering juga disebut masyarakat suku anak dalam, ada fenomena memprihatinkan ketika aroma kemiskinan berbalut kesederhanaan pola hidup masyarakatnya yang sampai saat ini masih bergantung pada kemurahan alam walau hutan tempat tinggal mereka tak lagi ramah seperti dulu kala.
Relokasi masyarakat KAT Desa Harapan Makmur Kecamatan Muara Lakitan di pemukiman mereka yang baru dengan lahan seluas 431 ha sebagai lahan Desa, juga lahan untuk pemukiman 32 keluarga penghuninya. Perubahan budaya dan prilaku sosial secara perlahan mengakibatkan terjadinya perubahan budaya. Di dalam rumah mereka sudah ada barang konsumtif televisi beserta parabolanya, dan juga beberapa rumah ada motor bagi anak-anak mudanya, namun cara berpakaian mereka masih tetap  kumal seperti layaknya masyarakat hutan yang sehari-hari di kebun karet. Dan, ada beberapa luas lahan telah berubah kepemilikan dan dijual kepada penduduk terdekat.  Kearifan Lokal masih bisa dilihat dengan Pak Ali yang menanam padi varietas lokal padi darat Dayang Rindu. ”Ini bibit warisan keluarga kami yang biasa kami tanam sesuai kebutuhan makan kami dan tak pernah dijual ke pasar,”ujarnya.     
Sementara itu, melihat masyarakat KAT di pinggiran Desa Muaratiku Kecamatan Karangjaya. Ketika bertemu dengan kepala suku, Pak Rohmat (54), yang menceritakan, “Bahwa, tingkat kesulitan hidup kami saat ini semakin sulit,” katanya. “Kami hanya bisa bergantung kepada penduduk desa lain untuk menumpang sebagai buruh sadap karet. Jika musim hujan kami tak bisa pergi ke kebun, maka kami makan apa saja dari sisa uang yang tersisa. Selanjutnya, tanpa punya lahan garapan sendiri ini akan menimbulkan persoalan yang kami susah untuk memikirkannya, belum lagi kalau ada anggota masyarakat kami yang meninggal mau dikubur di mana? Untuk bercampur dengan pemakaman penduduk desa yang mayoritas muslim jelas tidak boleh. Kondisi ini tak bisa terus berjalan seperti ini. Mesti ada jalan keluarnya. Kami tak bisa berpikir lagi..,” lanjutnya, “banyak warga kami mengatasi ekonomi terpaksa berburu babi hutan, labi-labi, dan binatang-binatang hutan lainnya. Barulah kami pulang ke rumah seminggu sekali, bisa juga dua minggu, bahkan ada sampai satu bulan baru pulang. Ketika mendapat buruan, dagingnya kami jual kepada pengepul daging babi hutan di Kabupaten Sorolangun Provinsi Jambi.“
Kebijakan merelokasi masyarakat suku anak dalam untuk ditempatkan di pemukiman yang baru di sekitar desa terdekat tersebut, memang ada indikasi politis yang mendasari areal hutan bisa dijual kepada investor tanpa ada hambatan berarti karena sang penghuni hutan telah direlokasi keluar hutan. Kebijakan ini memang bagus namun kurang bijak. Jika tak disertai analisa atas kebutuhan masyarakat setempat, maka yang terjadi adalah kebijakan sia-sia, bahkan banyak rumah yang ditinggalkan penghuninya. Perlahan namun pasti, terjadi perubahan budaya tempat kearifan lokal masyarakat yang akrab dengan hutan senantiasa bijak berintregrasi dengan alam sekitar. Pelan-pelan terjadi peradaban  yang hilang menuju perubahan berdampak jangka panjang. (Memeth).

Salam Redaksi


 SALAM REDAKSI


 
Duta Media Kembali Hadir dengan Informasi  yang Inovatif, Konstruktif , dan Aspiratif...Perlu dan Penting untuk Dibaca!
Alhamdulillah, berkat rahmat dari Allah SWT, Tabloid Duta Media bisa kembali terbit untuk edisi ke-14 di tengah-tengah masyarakat. Tabloid ini yang sejatinya merupakan media informasi yang lugas, memberikan wacana dan informasi konstruktif untuk menuju pemberitaan yang  demokratis, inovatif, aspiratif di bidang politik, sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi. Oleh karena itu, Tabloid Dwi Mingguan ini semoga akan mendapat  sambutan dan respon yang sangat baik dari pembaca nantinya. 
Selama ini, Duta Media telah mengalami stagnasi, karena telah ditinggal pergi untuk selamanya oleh Alm. Joni Ardiansyah, S.Ag. selaku Dapur Redaksi, Namun demikian, melalui manajemen baru, personal baru, dan juga paradigma baru diharapkan akan dapat membawa perubahan pada sistem kerja redaksi dalam filosofi liputan dan materi liputan yang didasari oleh keterampilan investigatif dari masing-masing person yang dinamis. Maka, kemudian akan diracik pula didapur redaksi agar dapat menjadi informasi yang menarik, akurat, perlu, penting untuk dibaca, sekaligus mampu memberikan pencerahan bagi pembacanya. 
Di tengah gelombang arus keterbukaan informasi dan gencarnya informasi lewat media di era globalisasi sekarang ini, kehadiran Duta Media ini akan dapat menjadi bacaan alternatif bagi masyarakat sebagai penyampai aspirasi, menyajikan berita-berita aktual dan kontekstual, serta yang terpenting bisa memberikan nilai-nilai pendidikan dan transformatif. Yang tentunya, setiap berita dikaji secara lugas dan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan berdasarkan sumber berita tanpa ada pengurangan redaksi dan memenuhi unsur unsur cover bothside (berita berimbang).


You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Main Menu

Poll

Powered By Blogger

Pengikut